Sabtu, 21 Februari 2015

BELAKA

Kopiku terseruput derasnya malam
Berkata, masih begini?
Nasib sudah diujung
Belaka sudah meninggal
Mau apa lagi?

Dua kali di lubang yang sama
Masih tak gentar dengan yang tak pasti?
Sudah, belaka sudah pergi
Enyahlah

Ini dia
Saat mereka menguatkan
Lalu kau kibaskan
Rasakan

Mau apa lagi?
Ilusi hanya yang tinggal
Belaka sudah pergi
Tak perlu kau cari lagi

Masih ada yang tertinggal, tapi
Rasa ini masih ingin
Cuaca juga bilang udara sekarang mencekam
Haruskah bermuara lagi?

Baik tak cukup
Rupa yang perlu dibenahi, mungkin
Ingat betapa mawarnya yang dulu begitu rupawan
Kamu apa?

Kan, kubilang
Belaka sudah pergi
Jangan kau cari lagi

Sabtu, 07 Februari 2015

Peluk

Ini bukan zona yang nyaman untukku. Aku tahu itu, sejak awal aku menginjak kakiku disini. Tapi kata orang, kau akan menemukan kebahagiaan baru jika kau menyentuh arena luar dari zona nyamanmu. Iyakah?

Aku bertemunya. Dia baik, kesan pertamaku mengenalnya. Tak jauh beda dengan pacar-pacar yang membuatku nyaman sebelumnya. Yah, minimal dia tak meminta banyak. Hanya menerimaku dengan senang hati, begitu raut mukanya terpancar di hadapanku. Aku terima saja. Siapa tahu akan menyenangkan.

Kau bertanya apa selanjutnya? Sama saja. Mungkin aku akan menyimpulkan bahwa inilah dunia. Tempat dimana kau bisa menemukan hal-hal yang menyenangkan, entah di zona nyaman atau tidak. Hanya saja, masih ada yang mengganjal. Apa ya?

Semakin hari, kenyamanan semakin aku rasakan. Tidak, belum sebanyak dulu. Dia sangat baik dan semakin hari semakin menerimaku. Walau aku tahu banyak sekali kesalahanku buatnya. Jujur, ada yang disengaja sih. Semacam tes, siapa tahu dia tak sebaik yang aku kira. Hasilnya? Ini yang semakin mengganjal. Dia menerima saja. Ya. Tanpa komplain.

Kata orang, terimalah ia yang menerimamu apa adanya. Haruskah? Atas esensi apa adanya itu, kemudian dia orang yang tepat untukku? Sekalipun aku belum senyaman dulu?

Ketika pikiranku melayang, memikirkan harus kuapakan dia. Apakah aku harus masa bodo dan memanfaatkannya begitu saja demi kesenanganku? Atau aku akan mencoba untuk lebih memahaminya dan mencoba untuk tetap berada di sisinya?

Semakin hari, pesonanya semakin terpancar. Terlebih, dia membantuku mengusir resah, manakala aku terikat pada dilema hidup yang sangat menyiksa. Dia sangat berjasa dalam hal ini. Aku tahu, terasa sakit di batinnya. Tapi dia tetap mendengarkanku, mendengarkan keluh kesahku, mendengarkan semua curhatku. Ya, mendengarkan betapa aku sangat cinta dengan orang lain.

Aku tidak jahat. Hanya sempat terjerumus ke orang yang salah. Cintaku direbut oleh orang yang seenaknya bermain-main dengan itu. Aku marah. Aku sedih. Aku kecewa.

Dan dia mengerti.
Dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Dia menghiburku.
Dia mengindahkan rasa kecewanya karena tahu cintaku untuk orang lain.
Dia objektif.

Ya, mungkin berusaha untuk objektif.

Dan perlahan aku berhasil mengambil hatiku kembali. Segera kututup rapat hatiku. Aku tak ingin ada yang mengambilnya lagi, tak ingin seseorang bermain-main lagi dengan itu. Termasuk dia. Sudah cukup. Karena aku tahu itu sakit.

Tapi dia. Dia tetap disini. Heran? Iyalah. Aku tak tahu apakah cintanya sebuta itu untuk tetap berada didekatku, sedangkan beginilah aku. Seenakku. Semauku. Sewenang-wenangku padanya. Yang penting aku bahagia. Dan dia tak berhak membuatku luka.

Aku tak egois. Hanya ingin hidup bahagia, tak boleh? Dia membuatku bahagia, memang. Karena itu aku menghindar berbicara banyak dengannya, berkomunikasi terus dengannya, karena aku tahu yang terlalu sering itu yang akan memicu luka. Pragmatis sajalah. Bukannya memang harus begitu?

Pelukku padanya tulus. Dia senang dengan itu. Kata orang, peluk itu menunjukkan bahwa kita nyaman berada di dekatnya, tak ingin berpisah. Mungkin iya. Sekalipun zona nyamanku belum sepenuhnya ada padanya. Yang penting aku bahagia.

Hey, aku juga memikirkannya. Dia bahagia juga dengan hanya ini. Aku yakin itu.