Minggu, 03 Maret 2013

Dua

Sudah lama tak bertemu. Apa kabar?

Shaina segera menghapus tulisan itu. Ia merasa bodoh sekali kalau sampai mengirim sms itu ke nomor yang ia tuju. Bukan apa-apa sih, hanya ia tak ingin duluan menanyakan kabar setelah apa yang ia alami dengan orang ini. Gengsinya masih terlalu tinggi.

Kicauan burung mulai terdengar ramai. Sudah pagi. Shaina harus segera bersiap-siap berangkat ke kampus. Oh iya, Shaina hampir lupa melakukan ritual barunya setiap pagi. Shaina mulai mengetik sms dan mengirimnya ke nomor yang ia sangat hafal beberapa hari ini. "Selamat pagi Raka sayang. Jangan lupa ya hari ini kamu masuk pagi. Sudah siapkah?"

-----------------------------------------------------------------------------

Hari ini Shaina berdandan sangat cantik. Ia memakai dress berwarna ungu polos setinggi paha dengan tambahan kalung yang sangat cantik. Kalung dari Raka. Shaina sangat bangga memakainya hari ini. Dengan penuh kepercayaan diri, Shaina mematut dirinya di cermin dan menambahkan sedikit riasan ke wajahnya.

Pintu kamar Shaina dibuka dari luar. Ibu memasuki kamar dan terkejut melihat dandanan anak bungsunya.
"Shaina sayang, kamu cantik sekali." kata Ibu seraya mengelus rambut Shaina yang panjang terurai.
"Ibu gausah berlebihan deh." ucap Shaina sambil tersipu malu.
"Ibu ngga berlebihan sayang. Raka juga pasti terkejut melihat kamu yang sangat cantik malam ini. Ayo, Raka sudah menunggu di ruang tamu."
Shaina segera mengambil pouch berwarna sepadan dengan dress yang ia pakai sambil sekali lagi mematut dirinya di cermin. Ia segera keluar sambil ditemani ibunya menemui Raka. Malam ini ia akan menemani Raka menghadiri undangan teman kantornya.

------------------------------------------------------------------------------

Sekali lagi Shaina mengecek handphonenya. Tak ada tanda. Sudah beberapa kali selama beberapa tahun belakangan ini ia selalu menanti seseorang menghubunginya. Seseorang yang telah memutuskan hubungan dengannya di masa lalu.

Lagi-lagi ia merasa sangat bodoh. Sudah dicampakkan, masih saja ditunggu. Padahal sudah ada Raka yang tampan dan sangat baik yang selalu ada di sampingnya. Lagi-lagi Shaina mengutuk dirinya sendiri.

"Cantik, ayo kita masuk." Raka mengulurkan tangannya yang segera  Shaina sambut dengan hangat. Benar, Shaina tak pantas terus menunggu orang itu, yang jelas-jelas jauh tidak lebih baik dari Raka. Shaina merasa beruntung Raka telah memilihnya menjadi kekasih.

Shaina duduk di meja makan sebuah restoran mewah berhadapan dengan Raka. Sebelumnya Shaina tidak menyangka Raka akan membawanya kesini. Shaina merasa ini sangat berlebihan, dan ia sangat tak enak hati memikirkan berapa banyak uang yang akan Raka habiskan kalau mereka makan disini. Namun Raka menenangkan hatinya dan berkata kalau ini mungkin momen yang bisa didapat sekali seumur hidup.

Suasana restoran sangat tenang. Pemandangan langit di malam hari sangat jelas terlihat dari sky view restoran ini. Shaina mengaguminya, membayangkan bagaimana baiknya Raka membawanya ke tempat semewah ini. Raka juga terlihat sangat senang bisa bersama Shaina di tempat ini. Diam-diam, Raka mengambil sesuatu berwarna merah dari dalam kantung celananya. Sesuatu yang pasti akan membuat Shaina terkejut.

----------------------------------------------------------------------------

Terdengar bunyi ringtone handphone Shaina. Nomor yang tidak Shaina kenal. Shaina mengernyitkan dahinya sebentar, kemudian mengangkat telepon itu.
"Halo, apa ini dengan Shaina Aafiya?"
"Iya betul. Ini Shaina. Ini dengan siapa?"
Terdengar suara lega bercampur tangisan haru. "Shaina, ini tante. Ibunya Mika."
Shaina tersentak. Seketika otaknya membawa Shaina teringat ke memori masa lalu. Masa-masa bahagia bersama Mika. Disaat Mika memutuskan hubungan dengannya, disaat Shaina menunggu dan terus menunggu kabar dari Mika.
"Shaina, tolong bantu tante. Mika kecelakaan, dan sampai saat ini ia terus-menerus menyebut namamu, Shaina. Kamu bisa kesini?"

-----------------------------------------------------------------------------

Shaina menangis di pojok sebuah lorong rumah sakit. Ia sudah menemui Mika. Mika yang sangat spesial di hatinya. Mika yang kini terbaring lemah di rumah sakit. Kecelakaan mobil membuat tulang kaki kanannya patah dan kepalanya mengalami kebenturan yang sangat dahsyat. Mika tidak mampu mengingat semua orang, kecuali ibunya dan satu wanita. Shaina.

Shaina tak habis pikir. Kenapa hanya namanya yang diingat Mika? Padahal sudah hampir 3 tahun mereka tidak saling berkabar setelah Mika memutuskan hubungan dengannya.

Saat Shaina menjenguk Mika, Mika tersenyum. Senyum yang tulus dan penuh pengharapan. Shaina tak tahu maksud senyum Mika apa. Mika segera menyuruh Shaina duduk di samping tempat tidurnya. Mika menggenggam tangan Shaina. Shaina yang berusaha menahan tangis tersenyum kepada Mika.

Mika membuka mulutnya dan berbicara dengan sedikit terbata-bata, "Shaina, maafin aku. Selama ini aku udah gamau tau tentang kamu. Padahal aku selalu nungguin kabar kamu. Tapi aku terlalu gengsi buat nanya kabar kamu duluan."
Shaina tak berkutik. Kini ia hanya bisa tersenyum sambil terus memegang tangan Mika. Ia tak bisa menahan satu tetes air mata jatuh ke pipi kanannya.
"Mika cuma inget Shaina sekarang. Mika kangen Shaina. Shaina mau kan nemenin Mika selama sisa hidup Mika? Mika gamau kehilangan Shaina lagi. Mika gamau nyesel lagi."
Kini ucapan Mika terdengar seperti anak kecil yang sangat tak ingin kehilangan ibunya.

------------------------------------------------------------------------------

Kini Shaina tak tahu harus bagaimana. Ia bingung. Shaina mulai sadar bahwa selama ini ia masih menginginkan Mika. Ia masih merindukan Mika bila Mika tak ada disisinya. Hatinya masih untuk Mika.

Shaina juga tak ingin meninggalkan tunangannya, Raka. Raka yang sangat baik, yang rela melakukan apa saja untuknya. Raka dengan segala cintanya kepada Shaina yang sangat tulus. Shaina tak ingin menghancurkan hati Raka.

Shaina masih menangis di pojok lorong rumah sakit. Berharap ia bisa membelah dirinya menjadi dua Shaina, yang bisa membahagiakan Mika sekaligus Raka.