Dia cantik. Berkulit putih langsat. Aku melihatnya seperti melihat wanita dengan kecantikan yang alami. Murah senyum, walau kadang terlihat sangat galak jika ia sedang serius. Supel. Modis. Indah dilihat. Dan mungkin bisa dibilang multi-talented. Aku yakin semua pria di sekolahku pasti pernah meliriknya.
Keunggulan yang ia miliki tak hanya dari kecantikannya saja. Cara bicaranya yang dewasa, sangat kontras dengan bentuk tubuhnya yang terkesan pendek untuk anak seusianya. Ketika aku pertama kali melihatnya, dirinya terkesan sombong dan angkuh menurut mataku. Dan aku yakin kalian pasti akan sependapat denganku. Namun sampai tahun ketiga aku satu atap sekolah dengannya dan sering terlibat dengannya dalam organisasi yang aku ikuti, aku semakin tahu bahwa dia tak sesombong yang aku kira.
Ia peduli, sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dia sangat menghargai orang, menurutku. Semua pendapat orang, apapun itu, selalu ia terima dengan terbuka. Jika mungkin pendapat orang itu keliru, ia tak langsung menolaknya. Ia akan mendengarkan orang itu sampai selesai, baru kemudian ia luruskan pendapat itu.
Apa yang spesial dari orang ini? Oke, dia cantik dan berkulit putih. Namun aku lebih tertarik dari inner beauty yang ia miliki. Ia sanggup membius orang dengan kata-katanya yang halus namun menusuk. Permainan kata-kata yang ia mainkan sangat cantik, secantik dirinya.
Aku mengaguminya. Kagum karena aku iri kepadanya. Aku memang ingin menjadi cantik, namun yang lebih aku inginkan adalah kemampuan berbicara sepertinya.
Tak ada kenangan indahku bersamanya, karena aku memang tak berteman dekat dengannya. Aku dan dia hanya sebatas teman yang hanya mengenal nama dan jabatan. Atau mungkin sebatas idola dan pengagumnya. Aku ingin mengenalnya lebih dekat.
Hugs, icha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar