Selasa, 13 Juli 2010

GILA

kita mendistorsi ruang normal dan ridak normal dengan cara yang gila.
kita merasa normal dengan pulang pergi ke diskotik mabuk-mabukan, sementara kita menyebut mereka yang tak pernah menikmati remang lampu disko sebagai orang aneh.

kita merasa normal jika dalam sebuah film ada adegan porno dan telanjang, sementara fil-film yang "bersih" kita anggap tak bermutu.
kita merasa normal dengan belajar mabuk, sementara orang yang tak pernah mabuk kita sebut "aneh".
kita merasa normal jika harus berbohong untuk bisa mengungkapkan kebenaran.
kita merasa normal dengan hanya tidak telanjang dan kumal di jalan, sementara kita telanjang dan kumal di hadapan Tuhan.


kita terus merasa normal, padahal tidak tahu hakikat kenormalan dan ketidaknormalan itu.
kita merasa normal, padahal kita mabuk.
kita merasa normal, padahal kita telanjang.
kita merasa normal, padahal kita pembunuh.
kita merasa norma, padahal kita berkhianat.
kita merasa normal, padahal kita korupsi.
kita merasa normal dengan mengerahkan segala potensi resistensi kita dan menertawakan orang-orang gila di RSJ, padahal sesungguhnya kitalah yang gila dan layak untuk ditertawakan.


kita merasa normal, padahala tidak. kita merasa normal, padahal kita mencuri. kita merasa normal, padahal kita tidak bermoral. kita merasa normal dengan segala tingkah skizofrerik yang kita lakukan. kita hidup tanpa jiwa dan kesadaran yang utuh, jiwa dan kesadaran kita selalu terbelah memilah-milah yang kita senangi saja, itulah sebabnya mengapa kita layak disebut GILA.






NB: kutipan paragraf salah satu dari empat novel terlaris "trilogi Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata

Tidak ada komentar: