Mereka tak akan pernah mengerti
Betapa kami ingin membuat mereka bahagia
Sampai peluh tak kami gubris
Penat tak kami rasa
Hanya tekad kami penuh
Mereka tak akan pernah mengerti
Betapa kami mencintai mereka
Memaklumi apa yang mereka suka
Tak ingin menyusahkan dengan memaksa kehendak kami
Meski kami percaya itu baik untuk mereka
Mereka tak akan pernah mengerti
Mengapa siput harus berjalan lambat
Mengapa singa harus mengaum
Mengapa ulat begitu menjijikkan
Kami hanya ingin mereka mengerti
Kami ada untuk mereka
Cinta tak berbalas budi
Hanya untuk mereka
Sayang tak berbalas kasih
Hanya untuk mereka
Meski kami tahu
Hingga mulut penuh busa pun
Hingga nafas terakhir berhembus pun
Mereka tak akan pernah mengerti
Poetry-Poet
Think. Create. Creative.
Sabtu, 01 Agustus 2015
Selasa, 14 April 2015
Datang Lagi
Huh, datang lagi.
Mau apa kamu kemari?
Aku tak punya mainan untukmu.
Aku pun tak ingin bermain lagi denganmu.
Hey, tunggu.
Kau mau pergi?
Setelah ajakku bermain dan kutolak, lantas kau pergi?
Segitu saja nyalimu? Huh.
Sana pergi.
Tak sudi aku melihatmu lagi.
Kau bukan teman yang baik.
Rugi aku dekatmu.
Penting memang aku untukmu?
Tidak, kan?
Penting, memang?
Ya kalau tak penting buat apa kamu dekati lagi.
Sana pergi, yang jauh.
Cari teman baru.
Aku disini gampang.
Apa kau bilang?
Jadi aku penting untukmu?
Seperti pentingnya benang untuk bisa menarik ulur layangan, begitu?
Tidak? Lalu, apa?
Hey, aku sudah sudi memikirkanmu.
Sadar tidak, banyak yang bergunjing disana.
Aku mencoba menutupimu.
Aku tahu kau orang baik.
Orang baik tapi tak sepantasnya pergi begitu saja.
Ya sudah, kau disini saja. Temani aku.
Mau apa kamu kemari?
Aku tak punya mainan untukmu.
Aku pun tak ingin bermain lagi denganmu.
Hey, tunggu.
Kau mau pergi?
Setelah ajakku bermain dan kutolak, lantas kau pergi?
Segitu saja nyalimu? Huh.
Sana pergi.
Tak sudi aku melihatmu lagi.
Kau bukan teman yang baik.
Rugi aku dekatmu.
Penting memang aku untukmu?
Tidak, kan?
Penting, memang?
Ya kalau tak penting buat apa kamu dekati lagi.
Sana pergi, yang jauh.
Cari teman baru.
Aku disini gampang.
Apa kau bilang?
Jadi aku penting untukmu?
Seperti pentingnya benang untuk bisa menarik ulur layangan, begitu?
Tidak? Lalu, apa?
Hey, aku sudah sudi memikirkanmu.
Sadar tidak, banyak yang bergunjing disana.
Aku mencoba menutupimu.
Aku tahu kau orang baik.
Orang baik tapi tak sepantasnya pergi begitu saja.
Ya sudah, kau disini saja. Temani aku.
Sabtu, 21 Februari 2015
BELAKA
Kopiku terseruput derasnya malam
Berkata, masih begini?
Nasib sudah diujung
Belaka sudah meninggal
Mau apa lagi?
Dua kali di lubang yang sama
Masih tak gentar dengan yang tak pasti?
Sudah, belaka sudah pergi
Enyahlah
Ini dia
Saat mereka menguatkan
Lalu kau kibaskan
Rasakan
Mau apa lagi?
Ilusi hanya yang tinggal
Belaka sudah pergi
Tak perlu kau cari lagi
Masih ada yang tertinggal, tapi
Rasa ini masih ingin
Cuaca juga bilang udara sekarang mencekam
Haruskah bermuara lagi?
Baik tak cukup
Rupa yang perlu dibenahi, mungkin
Ingat betapa mawarnya yang dulu begitu rupawan
Kamu apa?
Kan, kubilang
Belaka sudah pergi
Jangan kau cari lagi
Berkata, masih begini?
Nasib sudah diujung
Belaka sudah meninggal
Mau apa lagi?
Dua kali di lubang yang sama
Masih tak gentar dengan yang tak pasti?
Sudah, belaka sudah pergi
Enyahlah
Ini dia
Saat mereka menguatkan
Lalu kau kibaskan
Rasakan
Mau apa lagi?
Ilusi hanya yang tinggal
Belaka sudah pergi
Tak perlu kau cari lagi
Masih ada yang tertinggal, tapi
Rasa ini masih ingin
Cuaca juga bilang udara sekarang mencekam
Haruskah bermuara lagi?
Baik tak cukup
Rupa yang perlu dibenahi, mungkin
Ingat betapa mawarnya yang dulu begitu rupawan
Kamu apa?
Kan, kubilang
Belaka sudah pergi
Jangan kau cari lagi
Langganan:
Komentar (Atom)